Selasa, 11 Oktober 2016

Frekwensi 46 FM



Jam di Smarthphone menunjukan pukul 23:00 WIB saat aku meraih radio jadul yang berada di samping tempat tidur. Walaupun sekarang Smarthphone sudah menjamur dan ada aplikasi radionya, tetap saja mendengarkan siaran dari si radionya sendiri membawa perasaan yang berbeda. Seolah-olah kita sedang menikmati jaman tahun 90-an, benar-benar klasik.
    Ada sebuah acara yang aku gandrungi belakangan ini. Sebenarnya aku tahu acara ini juga tidak sengaja, saat sedang mencari acara yang menyajikan musik aku sampai pada frekwensi 46 FM. Pada Frekwensi ini selain menyajikan musik-musik yang sedang populer juga menyuguhkan cerita-cerita horor.
    Aku menyalakan radio, dan dari speaker-nya langsung terdengar suara sang penyiar yang sedang mengudara.

Selamat Malam Para Pendengar GGG FM Frekwensi 46 FM..
Apa Kabar Pendengar Malam Ini?
Semoga Baik-Baik Saja Ya..

Senang Sekali Saya Dapat Menemani Anda Dalam Acara ABNORMAL..
Selama Satu Jam Ke Depan Saya Akan Menceritakan Sebuah Kisah Memukau..
Dengan Selingan Salam Dari Para Pendengar dan Musik-Musik Pilihan..

Malam Ini Saya Akan Menyuguhkan Cerita Tentang Mitos AHOOL..
Jika Para Pendengar Merasa Cerita Ini Menghibur Silahkan Mengirimkan Sepatah Dua Patah Kata Di no XXXXXXXXXX..

    Sambil terkantuk-kantuk aku mendengarkan cerita Mitos Ahool. Seekor makhluk yang menyerupai kelelawar besar yang suaranya terdengar seperti "Ahoool" berulang-ulang. Saat mendengar cerita mitos ini, aku jadi teringat pada kedua sahabatku Dani dan Diki. BUkian karena mereka mirip sama Ahool, hanya saja aku ingat saat kami ketemu sama hantu di minimarket.
        Ada alasan kenapa malam ini aku lebih memilih mendengarkan radio daripada berkumpul sama dua teman Homo Shapien-ku tersebut. Saat ini si Dani sedang tamasya ke Surabaya dalam rangka mencari Action Figure Gundam yang katanya limited bange. Dan Diki tidak bisa diganggu karena sedang sibuk mengerjakan proyek besar, membuat origami burung-burungan berjumlah 100 ekor untuk surprise pacar temanya. Yah, sebuah proyek besar dan dia dibayar  Rp 500,- untuk setiap burung.
     Sebenarnya seminggu yang lalu aku dihubungi oleh Diki, dia minta bantuan untuk membuatkan origami burung.
"Dika, loe lagi sibuk nggak..aku ada proyek besar nih" Suara Diki menyembur keluar dari speaker HP.
"Proyek? emang kamu dapat job apaan" tanyaku, soalnya kalau aku tahu kalau urusan beginian biasanya ada gak beresnya.
Diki terkekeh, dan suara tawanya kayak mak lampir yang kesedak biji kedondong.
"Proyeknya tuh, bikin origami burung-burungan sejumlah seratus ekor" terangnya. Dia melanjutkan "Nah, per ekor nanti kita diberi upah Rp 500,-..ini permintaan temenku, katanya buat surprise ceweknya"
Aku diam mencoba mencerna kalimat yang masuk ke dalam telingaku ini.  Seratus ekor di kali 500, hasilnya 50ribu. Kita yang pegel ngelipatin cuman dibayar 50ribu, itupun nanti dibagi dua sama si Diki. Jadi perorang dapat 25ribu.
Karena aku belum menjawab, Diki bertanya lagi "Gimana Dik, mau?". Aku bisa membayangkan saat dia bertanya pasti kedua alisnya naik turun kayak ombak di empang belakang rumah.
“Sory, aku lagi sibuk…kapan-kapan aja ya” jawabku. Untungnya si Diki bisa menerima jawaban tersebut walaupun sedikit menggerutu. Tidak berselang lama aku lihat di Display Picture BBM-nya dipasang gambar “Lagi Sibuk, Jika Ada Keperluan Harap Hubungi Dinas Terkait”
Nah Para Pendengar Begitulah Mitos Tentang Ahool..
Benar Atau Tidaknya Apakah Anda Mau Membuktikan Sendiri..
    Akhirnya cerita mahkluk kelelawar tersebut selesai. Dan seperti acara-acara radio pada umumnya, setelah ini ada akan diputarkan musik-musik pilihan dan titip salam. Pada titip salam ini adalah ajang para jomblo untuk mengekspos diri mereka agar keberadaan mereka diakui dan tidak hilang dihembus angin malam, walaupun ada juga yang sudah memiliki pacar titip salam buat pacarnya yang lagi pacaran sama pacar orang.
    Aku meraih Smarthphone dan mulia mengetik salam untuk dua sahabatku. Dua hari yang lalu aku sudah memberitahu mereka kalau ada acara yang asyik di radio. Tapi karena Dani masih di Surabaya dia bilang belum menemukan frekwensi tersebut dan si Diki cuman bilang “Ya” saja. Sepertinya Diki masih agak jengkel karena aku tidak mau membantunya membuat origami.
Para Pendengar Sekalian..
Sudah satu jam kami bersama anda..
Jika Anda Memiliki Waktu Sempatkanlah Mengunjungi Stasiun Radio Kami Di Jalan Belimbing No 66 Tuban depanya toko emas Srijaya.
Selamat Malam Dan Selamat Beristirahat
Salam perpisahan tersebut ditutup dengan iringan music gamelan.
    Sore hari besoknya aku nongkrong di “Warung Mak’e” bersama Diki. Pagi tadi si Diki mengirim pesan lewat SMS (Yang mana jaman sekarang SMS jarang digunakan) ngajakin ketemuan di markas besar. Katanya ada sesuatu yang penting mau dibicarakan.
    Warung Mak’e, sebuah warung berdinding anyaman sederhana nan elegan di pinggir jalan. Kalau ditengah jalan nanti malah diseruduk mobil. Warung ini adalah markas kami bertiga karena harga makanan dan kopinya wajar. Selain itu para pembeli tertarik dengan promo iklan dari bekas kardus yang dipasang di samping pintu. Promo tersebut bertuliskan “PRI WAIFI”. Tidak ada yang tahu kenapa ditulis seperti itu dan tidak ada yang niat bertanya. Semuanya bungkam asalkan bisa menikmati kuota Wi-Fi yang diperebutkan lebih dari sepuluh orang di warung tersebut.
   Setelah meminum sedikit kopinya Diki bilang kalau Dani masih di Surabaya. Dia akan pulang besok pagi. Jika dilihat dari gelagatnya, Diki sudah tidak jengkel lagi. Karena itu aku memberanikan diri bertanya soal proyeknya, dan dia bilang proyek tersebut sukses. Hanya saja cewek temanya kecewa dengan pacarnya karena bukan dia sendiri yang membuat origami tersebut.
    Dika, kemarin kamu ngasih tahu tentang acara radio yang katamu bagus itukan?” tanya Diki. Aku mengiyakan.
   Diki melanjutkan “Gini Dik, aku penasaran sama acara tersebut…jadi kemarin malam aku coba mencari frekwensinya di Aplikasi radio Smarthphone tapi gak ketemu loh”
    “Serius?” kataku sambil memasang tampang angker.
    “Iyaaaa…piinteeeerrrr” ujar Diki.
    “Kan kamu bilang kalau sering kirim salam buat kita bertiga..aku jadinya penasaran dan cariin itu frekwensi..tapi gak ada” lanjut Diki. “Lo yakin itu radio asli?” tanyanya lagi
     Mengingat apa yang terjadi di minimarket beberapa waktu yang lalu aku bisa memaklumi kalau si Diki agak paranoid dengan semua hal berbau ghoib. Tapi kalau masalah kali ini aku rasa berbeda, karena aku tahu yang mendengarkan bukan hanya aku saja tetapi orang lain juga bila dilihat dari banyaknya yang titip salam dan menelepon. Akhirnya kami berdua sepakat akan mengunjung stasiun radio tersebut sehabis maghrib.
    Malam telah datang, dimana pada suasan seperti ini berbagai makhluk mulai beraktifitas. Ada yang lagi nongkrong, pacaran, dan berangkat kerja. Dan kami sendiri sedang menuju jalan belimbing no 66. Selama perjalanan tidak ada yang aneh hingga kami tiba di tujuan. Jalan ini agak kecil tapi lumayan ramai. Lalu kamu mencari toko emas Srijaya. Begitu ketemu kami turun dan memarkir sepedah motor di salah satu toko di jalan tersebut. Diki lalu mengeluarkan Action Cam dan mulai mencari spot foto. Katanya buat bukti kalau ada penampakan.
     Toko emas Srijaya, dan bangunan yang berdiri di dapan kami adalah sebuah Stasiun Radio dengan tower yang menjulang tinggi ke langit. Itulah tujuan dari perjalanan ini. Kami lalu masuk di stasiun radio tersebut dan menjelaskan maksud tujuan kami kesana.
    “frekwensi 46 FM?” tanya salah satu karyawan setalah kami memberikan maksud tujuan kami kesana. Beberapa karyawan juga terlihat berbisik-bisik dengan wajah serius. Aku mulai mulai merasakan sesuatu yang tidak enak.
    “Iya mas, itu acara yang selalu saya dengarkan setiap malam, tapi saat temanku ini mencarinya dia tidak menemukan acara tersebut” ujarku dan diamini oleh Diki.
     Karyawan tersebut diam sejenak dan akhirnya dia menceritakan sudah ada lima kali yang menanyakan tentang frekwensi 46 FM tersebut. Dia lalu menujuk di banner bahwa radio tempatnya bekerja berada pada Frekwensi 101,8 FM. Jadi kami adalah yang keenam. Kejadian pertama mereka menganggapnya sebagai kebetulan. Tapi kejadian tersebut berlanjut dan saat diperiksa melalui rekaman CCTV tidak ada kejadian yang aneh antara rentang waktu kejadian pertama sampai kami datang. Akhirnya pijak manajerial akan mengadakan selametan agar tidak ada kejadian yang sama terulang kembali.
   Setelah mendengarkan penjelasan dari pihak radio, kami ijin pulang. Selama perjalanan kepalaku dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Si Diki malah terus menerus mencecar aku dengan berbagai pertanyaan seputar acara tersebut.
   Saat ini aku kembali disadarkan bahwa mahkluk ghoib bisa ada dimana saja dan bisa menyerupai apa saja. Berbahagialah karena mereka sudah tidak mendiami tempat yang terlihat angker, tapi mereka juga mendiami tempat yang ramai dan berbaur dengan kita.
     Sesampainya di rumah aku ambil radio lamaku dan mencoba mencari frekwensi 46 tersebut. Hasil yang aku dapatkan hanya bunyi-bunyi tidak jelas yang sangat berbeda dengan kemarin malam. Pakah karena aku sudah mengetahui bahwa siaran ini adalah buatan "mereka" sehingga sekarang sudah tidak bisa diakses lagi?. Akhirnya kau mematikan radio dan aku taruh di gudang. Hanya dengan mengingatnya saja bulu kuduku sudah berdiri karena selama beberapa waktu ini aku mendengarkan siaran radio dari alam yang berbeda. Saat aku pejamkan mata, suara dari sang penyiar masih menggema di telingaku.
“Gue harus bisa Move On” kataku.

Surabaya, 23:16 WIB di hari yang sama
Seorang pemuda sedang asyik mendengarkan siaran radio dari Smarthphone-nya. Di bawah pemuda tersebut terdapat tas ransel berisi box gundam. Sambil menyeruput kopinya dia mendengarkan suara sang penyiar.
Selamat Malam Para Pendengar GGG FM Frekwensi 46 FM..
Apa Kabar Pendengar Malam Ini?
Semoga Baik-Baik Saja Ya..
Pemuda tersebut diam dan tersenyum. Hingga akhirnya dia berkata
“Siaran yang aneh..memangnya dari Tuban ke Surabaya frekwensinya bisa sampai?..setelah pulang aku akan mengajak Dika dan Diki untuk menyelidikinya”
Setelah itu sang pemuda mematikan aplikasi radionya dan beralih membaca komik Doraemon

Selasa, 11 Oktober 2016
Frekwensi 46 FM by Dhimas Rangga Kusuma