Jam
di Smarthphone menunjukan pukul 23:00 WIB saat aku meraih radio jadul yang
berada di samping tempat tidur. Walaupun sekarang Smarthphone sudah menjamur
dan ada aplikasi radionya, tetap saja mendengarkan siaran dari si radionya
sendiri membawa perasaan yang berbeda. Seolah-olah kita sedang menikmati jaman
tahun 90-an, benar-benar klasik.
Ada sebuah acara yang aku gandrungi belakangan ini. Sebenarnya aku tahu acara
ini juga tidak sengaja, saat sedang mencari acara yang menyajikan musik aku
sampai pada frekwensi 46 FM. Pada Frekwensi ini selain menyajikan musik-musik
yang sedang populer juga menyuguhkan cerita-cerita horor.
Aku menyalakan radio, dan dari speaker-nya langsung terdengar suara sang
penyiar yang sedang mengudara.
Selamat
Malam Para Pendengar GGG FM Frekwensi 46 FM..
Apa
Kabar Pendengar Malam Ini?
Semoga
Baik-Baik Saja Ya..
Senang
Sekali Saya Dapat Menemani Anda Dalam Acara ABNORMAL..
Selama
Satu Jam Ke Depan Saya Akan Menceritakan Sebuah Kisah Memukau..
Dengan
Selingan Salam Dari Para Pendengar dan Musik-Musik Pilihan..
Malam
Ini Saya Akan Menyuguhkan Cerita Tentang Mitos AHOOL..
Jika
Para Pendengar Merasa Cerita Ini Menghibur Silahkan Mengirimkan Sepatah Dua
Patah Kata Di no XXXXXXXXXX..
Sambil terkantuk-kantuk aku mendengarkan cerita Mitos Ahool. Seekor makhluk
yang menyerupai kelelawar besar yang suaranya terdengar seperti
"Ahoool" berulang-ulang. Saat mendengar cerita mitos ini, aku jadi
teringat pada kedua sahabatku Dani dan Diki. BUkian karena mereka mirip sama
Ahool, hanya saja aku ingat saat kami ketemu sama hantu di minimarket.
Ada alasan kenapa malam ini aku lebih
memilih mendengarkan radio daripada berkumpul sama dua teman Homo Shapien-ku
tersebut. Saat ini si Dani sedang tamasya ke Surabaya dalam rangka mencari
Action Figure Gundam yang katanya limited bange. Dan Diki tidak bisa diganggu
karena sedang sibuk mengerjakan proyek besar, membuat origami burung-burungan
berjumlah 100 ekor untuk surprise pacar temanya. Yah, sebuah proyek besar dan
dia dibayar Rp 500,- untuk setiap burung.
Sebenarnya seminggu yang lalu aku dihubungi oleh Diki, dia minta bantuan untuk
membuatkan origami burung.
"Dika,
loe lagi sibuk nggak..aku ada proyek besar nih" Suara Diki menyembur
keluar dari speaker HP.
"Proyek?
emang kamu dapat job apaan" tanyaku, soalnya kalau aku tahu kalau urusan
beginian biasanya ada gak beresnya.
Diki
terkekeh, dan suara tawanya kayak mak lampir yang kesedak biji kedondong.
"Proyeknya
tuh, bikin origami burung-burungan sejumlah seratus ekor" terangnya. Dia
melanjutkan "Nah, per ekor nanti kita diberi upah Rp 500,-..ini permintaan
temenku, katanya buat surprise ceweknya"
Aku
diam mencoba mencerna kalimat yang masuk ke dalam telingaku ini. Seratus
ekor di kali 500, hasilnya 50ribu. Kita yang pegel ngelipatin cuman dibayar
50ribu, itupun nanti dibagi dua sama si Diki. Jadi perorang dapat 25ribu.
Karena
aku belum menjawab, Diki bertanya lagi "Gimana Dik, mau?". Aku bisa membayangkan
saat dia bertanya pasti kedua alisnya naik turun kayak ombak di empang belakang
rumah.
“Sory,
aku lagi sibuk…kapan-kapan aja ya” jawabku. Untungnya si Diki bisa menerima
jawaban tersebut walaupun sedikit menggerutu. Tidak berselang lama aku lihat di
Display Picture BBM-nya dipasang
gambar “Lagi Sibuk, Jika Ada Keperluan Harap Hubungi Dinas Terkait”
Nah
Para Pendengar Begitulah Mitos Tentang Ahool..
Benar
Atau Tidaknya Apakah Anda Mau Membuktikan Sendiri..
Akhirnya
cerita mahkluk kelelawar tersebut selesai. Dan seperti acara-acara radio pada
umumnya, setelah ini ada akan diputarkan musik-musik pilihan dan titip salam.
Pada titip salam ini adalah ajang para jomblo untuk mengekspos diri mereka agar
keberadaan mereka diakui dan tidak hilang dihembus angin malam, walaupun ada
juga yang sudah memiliki pacar titip salam buat pacarnya yang lagi pacaran sama
pacar orang.
Aku meraih Smarthphone dan mulia mengetik salam untuk dua sahabatku. Dua hari
yang lalu aku sudah memberitahu mereka kalau ada acara yang asyik di radio. Tapi
karena Dani masih di Surabaya dia bilang belum menemukan frekwensi tersebut dan
si Diki cuman bilang “Ya” saja. Sepertinya Diki masih agak jengkel karena aku
tidak mau membantunya membuat origami.
Para Pendengar Sekalian..
Sudah satu jam kami bersama anda..
Jika Anda Memiliki Waktu Sempatkanlah Mengunjungi Stasiun
Radio Kami Di Jalan Belimbing No 66 Tuban depanya toko emas Srijaya.
Selamat Malam Dan Selamat Beristirahat
Salam
perpisahan tersebut ditutup dengan iringan music gamelan.
Sore hari besoknya aku nongkrong di “Warung
Mak’e” bersama Diki. Pagi tadi si Diki mengirim pesan lewat SMS (Yang mana
jaman sekarang SMS jarang digunakan) ngajakin ketemuan di markas besar. Katanya
ada sesuatu yang penting mau dibicarakan.
Warung
Mak’e, sebuah warung berdinding anyaman sederhana nan elegan di pinggir jalan. Kalau
ditengah jalan nanti malah diseruduk mobil. Warung ini adalah markas kami
bertiga karena harga makanan dan kopinya wajar. Selain itu para pembeli
tertarik dengan promo iklan dari bekas kardus yang dipasang di samping pintu.
Promo tersebut bertuliskan “PRI WAIFI”. Tidak ada yang tahu kenapa ditulis seperti
itu dan tidak ada yang niat bertanya. Semuanya bungkam asalkan bisa menikmati kuota
Wi-Fi yang diperebutkan lebih dari sepuluh orang di warung tersebut.
Setelah meminum sedikit kopinya Diki bilang kalau Dani masih di
Surabaya. Dia akan pulang besok pagi. Jika dilihat dari gelagatnya, Diki sudah
tidak jengkel lagi. Karena itu aku memberanikan diri bertanya soal proyeknya,
dan dia bilang proyek tersebut sukses. Hanya saja cewek temanya kecewa dengan
pacarnya karena bukan dia sendiri yang membuat origami tersebut.
“Dika,
kemarin kamu ngasih tahu tentang acara radio yang katamu bagus itukan?” tanya
Diki. Aku mengiyakan.
Diki melanjutkan “Gini Dik, aku penasaran
sama acara tersebut…jadi kemarin malam aku coba mencari frekwensinya di Aplikasi
radio Smarthphone tapi gak ketemu loh”
“Serius?” kataku sambil memasang tampang
angker.
“Iyaaaa…piinteeeerrrr” ujar Diki.
“Kan kamu bilang kalau sering kirim salam
buat kita bertiga..aku jadinya penasaran dan cariin itu frekwensi..tapi gak ada”
lanjut Diki. “Lo yakin itu radio asli?” tanyanya lagi
Mengingat apa yang terjadi di minimarket
beberapa waktu yang lalu aku bisa memaklumi kalau si Diki agak paranoid dengan
semua hal berbau ghoib. Tapi kalau masalah kali ini aku rasa berbeda, karena
aku tahu yang mendengarkan bukan hanya aku saja tetapi orang lain juga bila
dilihat dari banyaknya yang titip salam dan menelepon. Akhirnya kami berdua
sepakat akan mengunjung stasiun radio tersebut sehabis maghrib.
Malam telah datang, dimana pada suasan
seperti ini berbagai makhluk mulai beraktifitas. Ada yang lagi nongkrong,
pacaran, dan berangkat kerja. Dan kami sendiri sedang menuju jalan belimbing no
66. Selama perjalanan tidak ada yang aneh hingga kami tiba di tujuan. Jalan ini
agak kecil tapi lumayan ramai. Lalu kamu mencari toko emas Srijaya. Begitu ketemu
kami turun dan memarkir sepedah motor di salah satu toko di jalan tersebut.
Diki lalu mengeluarkan Action Cam dan
mulai mencari spot foto. Katanya buat bukti kalau ada penampakan.
Toko emas Srijaya, dan bangunan yang
berdiri di dapan kami adalah sebuah Stasiun Radio dengan tower yang menjulang
tinggi ke langit. Itulah tujuan dari perjalanan ini. Kami lalu masuk di stasiun
radio tersebut dan menjelaskan maksud tujuan kami kesana.
“frekwensi 46 FM?” tanya salah satu
karyawan setalah kami memberikan maksud tujuan kami kesana. Beberapa karyawan
juga terlihat berbisik-bisik dengan wajah serius. Aku mulai mulai merasakan
sesuatu yang tidak enak.
“Iya mas, itu acara yang selalu saya
dengarkan setiap malam, tapi saat temanku ini mencarinya dia tidak menemukan
acara tersebut” ujarku dan diamini oleh Diki.
Karyawan tersebut diam sejenak dan
akhirnya dia menceritakan sudah ada lima kali yang menanyakan tentang frekwensi
46 FM tersebut. Dia lalu menujuk di banner bahwa radio tempatnya bekerja berada
pada Frekwensi 101,8 FM. Jadi kami adalah yang keenam. Kejadian pertama mereka
menganggapnya sebagai kebetulan. Tapi kejadian tersebut berlanjut dan saat
diperiksa melalui rekaman CCTV tidak ada kejadian yang aneh antara rentang
waktu kejadian pertama sampai kami datang. Akhirnya pijak manajerial akan
mengadakan selametan agar tidak ada kejadian yang sama terulang kembali.
Setelah mendengarkan penjelasan dari pihak
radio, kami ijin pulang. Selama perjalanan kepalaku dipenuhi berbagai macam
pertanyaan. Si Diki malah terus menerus mencecar aku dengan berbagai pertanyaan
seputar acara tersebut.
Saat ini aku kembali disadarkan bahwa
mahkluk ghoib bisa ada dimana saja dan bisa menyerupai apa saja. Berbahagialah karena
mereka sudah tidak mendiami tempat yang terlihat angker, tapi mereka juga
mendiami tempat yang ramai dan berbaur dengan kita.
Sesampainya di rumah aku ambil radio
lamaku dan mencoba mencari frekwensi 46 tersebut. Hasil yang aku dapatkan hanya bunyi-bunyi tidak jelas yang sangat berbeda dengan kemarin malam. Pakah karena aku sudah mengetahui bahwa siaran ini adalah buatan "mereka" sehingga sekarang sudah tidak bisa diakses lagi?. Akhirnya kau mematikan radio dan aku taruh di gudang. Hanya dengan mengingatnya saja bulu kuduku sudah
berdiri karena selama beberapa waktu ini aku mendengarkan siaran
radio dari alam yang berbeda. Saat aku pejamkan mata, suara dari sang penyiar
masih menggema di telingaku.
“Gue
harus bisa Move On” kataku.
Surabaya,
23:16 WIB di hari yang sama
Seorang
pemuda sedang asyik mendengarkan siaran radio dari Smarthphone-nya. Di bawah
pemuda tersebut terdapat tas ransel berisi box gundam. Sambil menyeruput
kopinya dia mendengarkan suara sang penyiar.
Selamat
Malam Para Pendengar GGG FM Frekwensi 46 FM..
Apa
Kabar Pendengar Malam Ini?
Semoga
Baik-Baik Saja Ya..
Pemuda
tersebut diam dan tersenyum. Hingga akhirnya dia berkata
“Siaran
yang aneh..memangnya dari Tuban ke Surabaya frekwensinya bisa sampai?..setelah
pulang aku akan mengajak Dika dan Diki untuk menyelidikinya”
Setelah
itu sang pemuda mematikan aplikasi radionya dan beralih membaca komik Doraemon
Selasa,
11 Oktober 2016
Frekwensi
46 FM by Dhimas Rangga Kusuma