Rabu, 21 September 2016

Minimarket Horror Story

Salah satu kegiatan favoritku saat malam hari adalah ngopi bersama dua sahabatku. Walaupun terkadang sendiripun juga asyik, tapi lebih badas jika dilakukan bersama-sama. Dua sahabat karibku Dani dan Diki. Kami dipertemukan dalam ikatan takdir melalui kejadian yang luar biasa, dan kejadian inilah yang mengawali petualangan kami selanjutnya.
     Sebelumnya aku akan mendeskripsikan bentuk dan sosok dua makhluk kasat mata dan hampir tidak gaul ini. Diki, dari namanya sudah jelas laki-laki, tinggi 168 cm (dia ngototnya segitu, padahal dia lebih pendek dari aku), rambutnya dipotong model Bob kayak karakter Guru Guy pada anime Naruto. Tapi dari tampang yang eksentrik banget kayak makhluk langka dia memiliki jiwa sosial dan loyal terhadap teman-temanya. Bahkan saking loyalnya dia pernah ngajakin pacar temannya buat nonton filem di bioskop karena alasan kemanusiaan.  
     Dani, dia beperawakan tinggi tegap, rambut dipotong cepak, dan sepertinya urat saraf takutnya sudah putus. Menurut kabar burung yang terbang beredar, si Dani ini pernah berantem dengan anjing. Ceritanya tuh, si anjing dengan berani ngencingi sepedah pancal kesayanganya. Dia melacak si pembuat onar tersebut, dan saat mereka bertemu terjadilah pertarungan seru kedua makhluk tersebut. Aku sendiri gak tahu apa  kisah tersebut asli atau di dramatisir kayak sinetron-sinetron sekarang.
     Pertemuan kami berawal dari isu-isu yang beredar tentang penampakan hantu di minimarket dekat SPBU. Seperti yang kita tahu, jika berbicara tentang hantu pasti pikiran kita akan muncul sesosok mahluk tak kasat mata, nyeremin dan tinggal di tempat-tempat kumuh dan bangunan lama. Itulah teori yang dimunculkan sejak jaman dinosaurus belum punah sampai mereka musnah karena ditabrak meteor. Lalu kok bisa "mereka" muncul di tempat ramai semacam minimarket? jawabanya hanya bangsa mereka yang tahu, kalau penasaran tanya aja sendiri.
     Saat itu malam minggu, minimarket lagi ramai-ramainya. Banyak pasangan yang yang berbelanja untuk persiapan malam syahdu versi mereka sendiri-sendiri. Di sana untuk petama kalinya aku bertemu dengan Diki dan Dani. Aku yang baru selesai membeli kopi instan tidak langsung pulang, tapi milih nongkrong di kursi yang disediakan oleh manajemen minimarket sambil melihat pengunjung yang datang. Hingga ada yang menyapa dan mengajaku bicara
     "Mas, ngapain nongkrong disini sendirian?...ntar kesambet tahu rasa loh". Aku menoleh ke suara tersebut, dan dia melanjutkan "Aku numpang duduk juga ya?". "Eh, iya..silahkan aja" jawabku. Dialah Dani, kami belum saling kenal sehingga cara bicara kami masih terkesan jaim.
   "Perkenalkan namaku Dika Mahendra, panggil saja Dika" kataku mengawali percakapan. "Aku Dani Setyo, salam kenal juga" jawabnya sambil menjabat tanganku. Pembicaraan kamipun berlangsung biasa-biasa saja, hingga Dani menyinggung soal rumor yang beredar tentang minimarket tempat kami nongkrong ini.
     "Dik, kamu tahu gak kalau minimarket ini katanya berhantu?"
     "Ah, yang bener? masak iya hantu sekarang di minimarket" sanggahku
     Dani melanjutkan "Dibilangin gak percaya..temanku ada yang pernah belanja disini dan katanya itu hantu nyamar jadi salah satu pelayanya"
     "Sebentar-sebentar..jangan-jangan kamu kesini buat membuktikan perkataan temanmu tadi yang gak jelas benar apa enggaknya?" tanyaku. Dani mengangguk. Busyet dah ini orang, biasanya kita akan langsung menghindari tempat yang dikatakan angker sebagai respon pertahanan diri.
     "Gue ingin tahu aja" tukasnya. "Karena itu, pas belanja aku menghitung jumlah pelayan dan menanyakan pada kasir berapa yang jaga saat ini" lanjutnya. "Terus hasilnya?" tanyaku. "hasilnya gak ada yang aneh, pelayan yang jaga empat dan yang aku temui empat juga" ujar Dani sambil menghela nafas.
     Tidak berlangsung lama, ada wanita muda yang mendatangi kami. Pakaianya seperti pegawai kantoran. Parasnya manis dan terkesan anggun. Hingga kalimat merdu keluar dari bibirnya.
     "Mas-masnya narik ojek ya disini"
     GUBRAK!!!! aku dan Dani serasa kejatuhan atap minimarket yang ambruk. 
    "Maaf loh mbak, kami bukan narik ojek...kami cuman nongkrong aja disini" kata Dani begitu kesadaranya pulih.
    "Waduh mas, maaf ya...aku gak tahu" Wanita tadi minta maaf. 
    Aku pun angkat bicara "Kalau boleh tahu, mbak-nya mau kemana sih? kok tak lihat-lihat kayaknya terburu-buru".
      "Gini mas, saya mau kerumah teman kantor...soalnya dompetnya ketinggalan, alamatnya di jalan mangga dekat toko roti amerta" jawabnya wanita tadi. Aku dan Dani saling pandang. Mungkin pikiran kami sama, diantar apa enggak.
    Belum sempat kami menyahuti, dibelakang kami ada yang bicara "Sudah mbak, sama saya saja....kayaknya meraka berdua gak mau tuh nganterin mbak-nya". Kami bertiga menoleh, dan ada pemuda seumuran dengan kami yang baru saja keluar dari minimarket.
       "walah ini bocah gak punya tata krama ya, langsung nyosor percakapan orang lain aja" umpat Dani
       "tenang bro..tenang.." aku menenangkan teman baruku ini sebelum terjadi perang dunia ke-3. "Mas, gak apa-apa sih kalau mau nganterin mbak ini, tapi mbak nya mau gak dianterin sama mas nya?" tanyaku. Wanita tadi menjawab sambil tersenyum"saya ok aja ja, yang penting sampai tujuan". Bagai gayung disambut, pemuda tadi begitu senang. "Mbak tunggu sebentar disini, saya ambil sepedah" ujarnya dengan semangat.
      Tidak berselang lama dia datang sambil menaiki sepedah motor dan menyerahkan helm kepada penumpanganya. "Safety Riding mbak" tukasnya sambil mnegedipkan mata. Yang diajak bercanda hanya tersenyum saja. Wanita tadi naik di jok belakang dan mengalungkan tanganya untuk bepegangan pada si pemuda, lalu mereka pergi dan menghilang di telan gelapnya malam.
    "Syukurlah ada yang mau nganterin ya Dan" kataku sambil menoleh ke Dani. Dani cuman diam mematung, dan semakin lama aku lihat wajahnya benar-benar pucat. Dia menoleh padaku.
    "Dika, kamu lihat di spion sepdah bocah tadi enggak?" tanyanya dengan gemetar
    "eh..enggak..." ujarku. Dani diam dan melanjutkan "Benaran gak lihat?"
   "Dan, lo nakutin aja...emang kenapa dengan spionya?". Jujur saja, saat ini aku merasa buku kuduku berdiri. "Tadi gue sempat lihat spionya saat tu cewek naik, tapi di spion hanya ada PANTULAN BAYANGAN pengendaranya saja, sama sekali gak ada pantulan cewek tersebut!!!! pekik Dani. Demi mendengar kata-kata Dani nafasku rasanya tercekat. Kami berdua saling pandang hingga aku berkata "Nasib itu orang gimana ya?". "Ayo susul dia,...Dik, kamu masih ingat alamat tujuan cewek tadikan?" tanya Dani. Akupun menjawab "Iya, aku masih ingat".
    Dalam waktu kurang dari lima menit aku dan Dani sudah kebut-kebutan di jalanan. Tujuan kami adalah jalan mangga dekat toko roti amerta. Dalam benaku sudah muncul skenario-skenario yang mengerikan. Setelah kami hampir mendekati TKP (Tempat Kejadian Penampakan), Dani mengurangi kecepatan sepedah motornya sambil melihat kanan dan kiri. Jalan mangga, jalan ini termasuk agak sepi dibandingkan jalan-jalan yang lain. Sepanjang jalan ini hanya ada tiga gang kecil. Dua gang di sebelah kanan yang megarah ke pemukiman warga dan satu gang buntu. Di ujung gang buntu ini ada tempat pemakaman umum warga sekitar. Gang buntu ini bersebelahan dengan toko roti Amerta. Di ujung gang yang agak gelap, terparkir sepedah motor yang kami kenal. Sedangkan pengendara sepedah motor ini terduduk lemas di trotoar. Melihat kedatangan kami, raut wajahnay berubah menjadi bahagia. Aku turun dan memberi pemuda itu minuman isotonik dari minimarket. Selasi meneguk minuman dia langsung bertanya.
    "Sejak kapan kalian sadar kalau cewek tadi bukan manusia" tanyanya dengan gemetar. Dapat aku lihat jari tangannya masih gemetar karena syok.
     "saat dia naik sepedah motormu" jawab Dani. "bayangannya tidak ada di spion sepedah motormu"
     "Hahhaha..begitu ya" pemuda tadi mencoba tertawa
   Selanjutnya kami membawa pemuda tadi ke warung terdekat untuk menenangkan syarafnya yang terguncang. Dia memperkenalkan diri, namanya Diki wahyudi. Lalu dia menceritakan pengalamanya saat membonceng wanita misterius tersebut. Awalnya biasa-biasa saja, hingga dia dan penumpang misterius tadi berbelok di gang buntu. Dia merasakan punggungnya panas. "Masak iya ini cewek mau bakar gue" pikirnya. Karena penasaran dia mencoba melihat di spion, dan yang nampak disana hampir menghentikan jantungnya. Sebuah helm melayang tanpa ada raga yang mengenakanya. Dia menghentikan laju motornya dan menoleh kebelakang. Wanita tersebut tersenyum kecut sambil mengucapkan terima kasih dengan suara parau. Seluruh tubunhya kaku, keringat bercucuran, degup jantunganya meningkat, dan Diki merasakan tenaganya terkuras habis. Dia terduduk lemas di trotoar sampai aku dan Dani menemukanya.
     Setelah Diki bercerita kami bertiga duduk terdiam. Pengalaman malam ini begitu mengena, sehingga kopi yang kami pesan terabaikan begitu saja. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. 
     Malam ini, aku mendapatkan dua pelajaran berharga. Aku medapatkan dua orang teman baru. Dan yang kedua aku menyadari bahwa hantu tidak selamanya akan muncul di tempat yang kumuh dan tua. Mereka bisa dimana saja, bahkan di tempat yang ramai sekalipun. Di tempat yang tidak bisa kita bayangkan kalau meraka ada disana.
     Dani mengambil cangkir kopinya dan mencicipi sedikit, setelah itu dia berkata "Gue puas, akhirnya bisa lihat penampakan walau badan jadi keder". Aku dan Diki saling pandang, dan secara bersamaan kami mengumpat "BOCAH EDAN"

Kamis, 21 September 2016
Minimarket Horror Story by Dhimas Rangga Kusuma
    
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar