Rabu, 28 September 2016

Jalan Berpisah

Ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa tidak berdayanya manusia dalam menghadapi kehilangan. Apapun alasannya, perpisahan selalu meninggalkan duka. Walapun mencoba sekuat mungkin, manusia tetap akan merasa kehilangan. Tetapi kita hanya merasakan kehilangan saat sesuatu tersebut benar-benar  direnggut dari diri kita.
    Satu bulan yang lalu, salah seorang rekan kami akan resign dari perusahaan. Berita yang benar-benar mendadak, karena kami tidak pernah melihatnya mengeluhkan pekerjaan ataupun perlakuan rekan-rekannya. Atau mungkin dia tidak mau mengeluh ataupun curhat, karena manusia memliki kecenderungan hanya ingin tahu tetapi tidak mau membantu. Rekan kami tersebut bernama Tisna Cahyani, dia tergolong pegawai baru karena belum ada satu tahun bekerja. Walapun belum lama, tapi dia termasuk gadis yang baik, supel, suka bercanda, dan ringan tangan. Pekerjaan yang diberikan padanya pun juga dapat dia selesaikan dengan baik. Jadi bisa dibayangkan betapa terkejutnya kami saat mengetahui kabar bahwa dia resign.
    "Tisna, kamu kenapa kok resign? kan kalau ada apa-apa bisa cerita pada kami" tanya Ika saat kami berkumpul di kantin untuk istirahat makan siang.
    Sambil tersenyum Tisna menjawab "gak ada masalah apa-apa kok mbak". Tapi jawaban tersebut tidak memuaskan sang penanya. Ika masih mencecar Tisna dengan berbagai pertanyaan selama jam makan siang bila tidak dihentikan oleh salah satu teman kami.
    "Sudahlah Ka, mungkin Tisna memiliki alasan kenapa tidak mau mengungkapkan alasannya" Kata Desi agar Ika berhenti bertanya. Setelah itu Ika hanya menggerutu saja. Sebenarnya aku paham bagaimana perasaan Ika, karena dia adalah teman satu kos dan semenjak ada Tisna mereka berdua selalu jalan berdua.
    "Jaka...Somad...kenapa kalian diam saja, bantu tanya juga dong" hardik Ika pada kami. Aku hanya tertawa kecil dan mengatakan kalau aku setuju sama pendapat Desi. Menurutku memang tidak adil kalau kita terlalu ikut campur dalam urusan Tisna walaupun dia rekan kami juga. Berbeda dengan Jaka, dia semenjak tahu berita pengunduran diri Tisna sikapnya sedikit berubah menjadi agak diam seperti ada yang mengganggu pikiranya. Sebelum kembali ke kantor, Desi mengusulkan acara perpisahan 3 hari lagi sekaligus mengantar Tisna saat akan kembali ke kota asalnya. Kami menyetujuinya.
    "Woi, Jaka...kamu kepikiran sama Tisna ya?" Tanyaku setelah kami kembali ke kantor. Meja kerjaku dan meja kerja Jaka bersebelahan. Yang ditanya cuman diam saja, tidak menjawab ataupun menoleh. Dia sebenarnya tahu keberadaanku atau tidak sih.
    "Jak, kesempatan tidak datang dua kali...selagi sempat cepat ungkapkan perasaanmu pada Tisna" cerocosku lagi. Ok, apa yang aku katakan barusan hanya tebak-tebakan saja kalau Jaka menyukai Tisna. Tapi melihat ekspresi Jaka yang kayak disamber petir saat mendengar perkataanku membuktikan semuanya.
       "Mad...." katanya, tetapi ada sesuatu yang mengganggunya sehingga kata-katanya seperti tersangkut di tenggorokan dan menolak untuk keluar. "Gak jadi deh Mad" ucapnya. Gila, padahal aku sudah menyiapkan mental dan gendang telinga untuk mendengarkan curhatnya yang pasti haru biru. "Ya sudah kalau gitu" kataku sewot.
    Selama tiga hari aku melihat Jaka seperti orang linglung dan tidak mempunyai gairah kerja sama sekali. Aku tahu, walaupun fisiknya berada di tempat kerja tetapi pikiranya ke mana-mana. Sebagai teman aku merasa iba padanya, tapi itu juga merupakan sebuah pelajaran berharga untuk Jaka. Saat mencintai seseorang kita juga harus mau menerima resiko yang setimpal dari perasaan suci tersebut.
    "Somad, Jaka mana?" tanya Desi saat tiba hari perpisahan dengan Tisna. Aku cuma diam saja dan menggelengkan kepala. Si Ika berusaha menghubungi Jaka tapi tidak diangkat. 
    "Si Jaka kemana sih..hari penting buat temanya kayak gini kok malah gak datang" marah Ika. "Dasar gak punya persaan dia itu, ada temanya yang mau pergi malah gak datang atau mengucapkan salam perpisahan" lanjut Ika.
    "Gak apa-apa kok mbak...mungkin mas Jaka lagi ada keperlaun lain yang lebih mendesak" Ujar Tisna menenangkan Ika. Tisna lalu menatapku dan berkata "Mas Somad, titip salam buat Mas Jaka ya". "Iya Tis, Insya Allah aku sampaikan" Jawabku.
    Acara perpisahan berlangsung dengan canda tawa. Kami menginggat semua kejadian lucu, senang, dan sedih saat-saat kami bersama. Hingga tiba waktunya perpisahan, kami mengantar Tisna ke terminal. Semua canda tawa tadi seperti menguap begitu saja tanpa bekas saat Bus yang akan mengatar teman kami datang. Desi, Ika dan Tisna saling berpelukan dan menangis. Suasana berubah menjadi mengharukan. Pandangan kami tidak bisa lepas dari sosok teman kami tersebut, mulai dari dia naik bus sampai bus tersebut berangkat.
    Aku pulang sambil mengantarkan Desi dan Ika karena kondisi mereka sedang tidak stabil. Aku takut kalau terjadi apa-apa pada mereka di jalan. Setelah itu aku mampir kantor sebentar karena ada berkas lemburanku yang ketinggalan. Begitu tiba di kantor, pandanganku tertuju pada meja Jaka. 
    "Kok masih ada Tas kantornya Jaka ya" pikirku dalam hati. Aku mencoba mencarinya di ruangan tapi tidak ketemu. Aku tanya satpam yang sedang berjaga, katanya melihat Jaka naik tangga menuju puncak gedung. Pikiranku sudah bermacam-macam saat mendengarnya, aku berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan sahabatku tersebut.
     Akhirnya aku menemukanya. Dia sedang berdiri sambil memegangi sebuah foto. Ya, itu adalah foto Tisna. Dia memandangi foto tersebut, sejenak kemudian dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan korek api. Secara perlahan dia menyalakan korek tersebut dan membakar foto Tisna. Abu foto tersebut berterbangan di tiup angin, dan jaka hanya menatap abu tersebut dengan pandangan pilu.
    Aku yang melihat fragmen tersebut memutuskan untuk membiarkan Jaka sendirian unuk saat ini. Jika sudah waktunya mungkin dia akan bercerita sendiri, jika tidak aku tidak memiliki hak untuk mengoreknya. 
    "Kamu salah Ka...tidak menyapa ataupun mengantar bukan berarti tidak memiliki perasaan apapun" kataku dalam hati. Aku segera turun dan tidak ingin mengganggu sahabatku. Aku tahu apa yang dirasakanya karena aku pun pernah mengalaminya. Merasakan kehilangan yang sangat menyakitkan. Apa yang dilakukan Jaka mungkin ada benarnya dengan tidak ikut mengantar, seperti rasa kehilangan saat aku mengantarkan seseorang yang sangat aku rindukan. Perasaan tersebut akan menancap dengan dengan kuat saat aku mengantarkanya pergi. Sebuah jalan perpisahan yang tidak bisa aku bayangkan akan Bahkan sampai saat ini aku terus mencari keberadaanya dan menunggunya untuk kembali. Kembali padaku.
    "Semoga kamu tidak menjadi seperti aku wahai sahabat, semoga jalan perpisahan ini membuatmu semakin kuat" kataku sambil menuruni Tangga

Kamis, 29 September 2016
Jalan Berpisah By Dhimas Rangga Kusuma

Rabu, 21 September 2016

Minimarket Horror Story

Salah satu kegiatan favoritku saat malam hari adalah ngopi bersama dua sahabatku. Walaupun terkadang sendiripun juga asyik, tapi lebih badas jika dilakukan bersama-sama. Dua sahabat karibku Dani dan Diki. Kami dipertemukan dalam ikatan takdir melalui kejadian yang luar biasa, dan kejadian inilah yang mengawali petualangan kami selanjutnya.
     Sebelumnya aku akan mendeskripsikan bentuk dan sosok dua makhluk kasat mata dan hampir tidak gaul ini. Diki, dari namanya sudah jelas laki-laki, tinggi 168 cm (dia ngototnya segitu, padahal dia lebih pendek dari aku), rambutnya dipotong model Bob kayak karakter Guru Guy pada anime Naruto. Tapi dari tampang yang eksentrik banget kayak makhluk langka dia memiliki jiwa sosial dan loyal terhadap teman-temanya. Bahkan saking loyalnya dia pernah ngajakin pacar temannya buat nonton filem di bioskop karena alasan kemanusiaan.  
     Dani, dia beperawakan tinggi tegap, rambut dipotong cepak, dan sepertinya urat saraf takutnya sudah putus. Menurut kabar burung yang terbang beredar, si Dani ini pernah berantem dengan anjing. Ceritanya tuh, si anjing dengan berani ngencingi sepedah pancal kesayanganya. Dia melacak si pembuat onar tersebut, dan saat mereka bertemu terjadilah pertarungan seru kedua makhluk tersebut. Aku sendiri gak tahu apa  kisah tersebut asli atau di dramatisir kayak sinetron-sinetron sekarang.
     Pertemuan kami berawal dari isu-isu yang beredar tentang penampakan hantu di minimarket dekat SPBU. Seperti yang kita tahu, jika berbicara tentang hantu pasti pikiran kita akan muncul sesosok mahluk tak kasat mata, nyeremin dan tinggal di tempat-tempat kumuh dan bangunan lama. Itulah teori yang dimunculkan sejak jaman dinosaurus belum punah sampai mereka musnah karena ditabrak meteor. Lalu kok bisa "mereka" muncul di tempat ramai semacam minimarket? jawabanya hanya bangsa mereka yang tahu, kalau penasaran tanya aja sendiri.
     Saat itu malam minggu, minimarket lagi ramai-ramainya. Banyak pasangan yang yang berbelanja untuk persiapan malam syahdu versi mereka sendiri-sendiri. Di sana untuk petama kalinya aku bertemu dengan Diki dan Dani. Aku yang baru selesai membeli kopi instan tidak langsung pulang, tapi milih nongkrong di kursi yang disediakan oleh manajemen minimarket sambil melihat pengunjung yang datang. Hingga ada yang menyapa dan mengajaku bicara
     "Mas, ngapain nongkrong disini sendirian?...ntar kesambet tahu rasa loh". Aku menoleh ke suara tersebut, dan dia melanjutkan "Aku numpang duduk juga ya?". "Eh, iya..silahkan aja" jawabku. Dialah Dani, kami belum saling kenal sehingga cara bicara kami masih terkesan jaim.
   "Perkenalkan namaku Dika Mahendra, panggil saja Dika" kataku mengawali percakapan. "Aku Dani Setyo, salam kenal juga" jawabnya sambil menjabat tanganku. Pembicaraan kamipun berlangsung biasa-biasa saja, hingga Dani menyinggung soal rumor yang beredar tentang minimarket tempat kami nongkrong ini.
     "Dik, kamu tahu gak kalau minimarket ini katanya berhantu?"
     "Ah, yang bener? masak iya hantu sekarang di minimarket" sanggahku
     Dani melanjutkan "Dibilangin gak percaya..temanku ada yang pernah belanja disini dan katanya itu hantu nyamar jadi salah satu pelayanya"
     "Sebentar-sebentar..jangan-jangan kamu kesini buat membuktikan perkataan temanmu tadi yang gak jelas benar apa enggaknya?" tanyaku. Dani mengangguk. Busyet dah ini orang, biasanya kita akan langsung menghindari tempat yang dikatakan angker sebagai respon pertahanan diri.
     "Gue ingin tahu aja" tukasnya. "Karena itu, pas belanja aku menghitung jumlah pelayan dan menanyakan pada kasir berapa yang jaga saat ini" lanjutnya. "Terus hasilnya?" tanyaku. "hasilnya gak ada yang aneh, pelayan yang jaga empat dan yang aku temui empat juga" ujar Dani sambil menghela nafas.
     Tidak berlangsung lama, ada wanita muda yang mendatangi kami. Pakaianya seperti pegawai kantoran. Parasnya manis dan terkesan anggun. Hingga kalimat merdu keluar dari bibirnya.
     "Mas-masnya narik ojek ya disini"
     GUBRAK!!!! aku dan Dani serasa kejatuhan atap minimarket yang ambruk. 
    "Maaf loh mbak, kami bukan narik ojek...kami cuman nongkrong aja disini" kata Dani begitu kesadaranya pulih.
    "Waduh mas, maaf ya...aku gak tahu" Wanita tadi minta maaf. 
    Aku pun angkat bicara "Kalau boleh tahu, mbak-nya mau kemana sih? kok tak lihat-lihat kayaknya terburu-buru".
      "Gini mas, saya mau kerumah teman kantor...soalnya dompetnya ketinggalan, alamatnya di jalan mangga dekat toko roti amerta" jawabnya wanita tadi. Aku dan Dani saling pandang. Mungkin pikiran kami sama, diantar apa enggak.
    Belum sempat kami menyahuti, dibelakang kami ada yang bicara "Sudah mbak, sama saya saja....kayaknya meraka berdua gak mau tuh nganterin mbak-nya". Kami bertiga menoleh, dan ada pemuda seumuran dengan kami yang baru saja keluar dari minimarket.
       "walah ini bocah gak punya tata krama ya, langsung nyosor percakapan orang lain aja" umpat Dani
       "tenang bro..tenang.." aku menenangkan teman baruku ini sebelum terjadi perang dunia ke-3. "Mas, gak apa-apa sih kalau mau nganterin mbak ini, tapi mbak nya mau gak dianterin sama mas nya?" tanyaku. Wanita tadi menjawab sambil tersenyum"saya ok aja ja, yang penting sampai tujuan". Bagai gayung disambut, pemuda tadi begitu senang. "Mbak tunggu sebentar disini, saya ambil sepedah" ujarnya dengan semangat.
      Tidak berselang lama dia datang sambil menaiki sepedah motor dan menyerahkan helm kepada penumpanganya. "Safety Riding mbak" tukasnya sambil mnegedipkan mata. Yang diajak bercanda hanya tersenyum saja. Wanita tadi naik di jok belakang dan mengalungkan tanganya untuk bepegangan pada si pemuda, lalu mereka pergi dan menghilang di telan gelapnya malam.
    "Syukurlah ada yang mau nganterin ya Dan" kataku sambil menoleh ke Dani. Dani cuman diam mematung, dan semakin lama aku lihat wajahnya benar-benar pucat. Dia menoleh padaku.
    "Dika, kamu lihat di spion sepdah bocah tadi enggak?" tanyanya dengan gemetar
    "eh..enggak..." ujarku. Dani diam dan melanjutkan "Benaran gak lihat?"
   "Dan, lo nakutin aja...emang kenapa dengan spionya?". Jujur saja, saat ini aku merasa buku kuduku berdiri. "Tadi gue sempat lihat spionya saat tu cewek naik, tapi di spion hanya ada PANTULAN BAYANGAN pengendaranya saja, sama sekali gak ada pantulan cewek tersebut!!!! pekik Dani. Demi mendengar kata-kata Dani nafasku rasanya tercekat. Kami berdua saling pandang hingga aku berkata "Nasib itu orang gimana ya?". "Ayo susul dia,...Dik, kamu masih ingat alamat tujuan cewek tadikan?" tanya Dani. Akupun menjawab "Iya, aku masih ingat".
    Dalam waktu kurang dari lima menit aku dan Dani sudah kebut-kebutan di jalanan. Tujuan kami adalah jalan mangga dekat toko roti amerta. Dalam benaku sudah muncul skenario-skenario yang mengerikan. Setelah kami hampir mendekati TKP (Tempat Kejadian Penampakan), Dani mengurangi kecepatan sepedah motornya sambil melihat kanan dan kiri. Jalan mangga, jalan ini termasuk agak sepi dibandingkan jalan-jalan yang lain. Sepanjang jalan ini hanya ada tiga gang kecil. Dua gang di sebelah kanan yang megarah ke pemukiman warga dan satu gang buntu. Di ujung gang buntu ini ada tempat pemakaman umum warga sekitar. Gang buntu ini bersebelahan dengan toko roti Amerta. Di ujung gang yang agak gelap, terparkir sepedah motor yang kami kenal. Sedangkan pengendara sepedah motor ini terduduk lemas di trotoar. Melihat kedatangan kami, raut wajahnay berubah menjadi bahagia. Aku turun dan memberi pemuda itu minuman isotonik dari minimarket. Selasi meneguk minuman dia langsung bertanya.
    "Sejak kapan kalian sadar kalau cewek tadi bukan manusia" tanyanya dengan gemetar. Dapat aku lihat jari tangannya masih gemetar karena syok.
     "saat dia naik sepedah motormu" jawab Dani. "bayangannya tidak ada di spion sepedah motormu"
     "Hahhaha..begitu ya" pemuda tadi mencoba tertawa
   Selanjutnya kami membawa pemuda tadi ke warung terdekat untuk menenangkan syarafnya yang terguncang. Dia memperkenalkan diri, namanya Diki wahyudi. Lalu dia menceritakan pengalamanya saat membonceng wanita misterius tersebut. Awalnya biasa-biasa saja, hingga dia dan penumpang misterius tadi berbelok di gang buntu. Dia merasakan punggungnya panas. "Masak iya ini cewek mau bakar gue" pikirnya. Karena penasaran dia mencoba melihat di spion, dan yang nampak disana hampir menghentikan jantungnya. Sebuah helm melayang tanpa ada raga yang mengenakanya. Dia menghentikan laju motornya dan menoleh kebelakang. Wanita tersebut tersenyum kecut sambil mengucapkan terima kasih dengan suara parau. Seluruh tubunhya kaku, keringat bercucuran, degup jantunganya meningkat, dan Diki merasakan tenaganya terkuras habis. Dia terduduk lemas di trotoar sampai aku dan Dani menemukanya.
     Setelah Diki bercerita kami bertiga duduk terdiam. Pengalaman malam ini begitu mengena, sehingga kopi yang kami pesan terabaikan begitu saja. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. 
     Malam ini, aku mendapatkan dua pelajaran berharga. Aku medapatkan dua orang teman baru. Dan yang kedua aku menyadari bahwa hantu tidak selamanya akan muncul di tempat yang kumuh dan tua. Mereka bisa dimana saja, bahkan di tempat yang ramai sekalipun. Di tempat yang tidak bisa kita bayangkan kalau meraka ada disana.
     Dani mengambil cangkir kopinya dan mencicipi sedikit, setelah itu dia berkata "Gue puas, akhirnya bisa lihat penampakan walau badan jadi keder". Aku dan Diki saling pandang, dan secara bersamaan kami mengumpat "BOCAH EDAN"

Kamis, 21 September 2016
Minimarket Horror Story by Dhimas Rangga Kusuma