Selasa, 11 Oktober 2016

Frekwensi 46 FM



Jam di Smarthphone menunjukan pukul 23:00 WIB saat aku meraih radio jadul yang berada di samping tempat tidur. Walaupun sekarang Smarthphone sudah menjamur dan ada aplikasi radionya, tetap saja mendengarkan siaran dari si radionya sendiri membawa perasaan yang berbeda. Seolah-olah kita sedang menikmati jaman tahun 90-an, benar-benar klasik.
    Ada sebuah acara yang aku gandrungi belakangan ini. Sebenarnya aku tahu acara ini juga tidak sengaja, saat sedang mencari acara yang menyajikan musik aku sampai pada frekwensi 46 FM. Pada Frekwensi ini selain menyajikan musik-musik yang sedang populer juga menyuguhkan cerita-cerita horor.
    Aku menyalakan radio, dan dari speaker-nya langsung terdengar suara sang penyiar yang sedang mengudara.

Selamat Malam Para Pendengar GGG FM Frekwensi 46 FM..
Apa Kabar Pendengar Malam Ini?
Semoga Baik-Baik Saja Ya..

Senang Sekali Saya Dapat Menemani Anda Dalam Acara ABNORMAL..
Selama Satu Jam Ke Depan Saya Akan Menceritakan Sebuah Kisah Memukau..
Dengan Selingan Salam Dari Para Pendengar dan Musik-Musik Pilihan..

Malam Ini Saya Akan Menyuguhkan Cerita Tentang Mitos AHOOL..
Jika Para Pendengar Merasa Cerita Ini Menghibur Silahkan Mengirimkan Sepatah Dua Patah Kata Di no XXXXXXXXXX..

    Sambil terkantuk-kantuk aku mendengarkan cerita Mitos Ahool. Seekor makhluk yang menyerupai kelelawar besar yang suaranya terdengar seperti "Ahoool" berulang-ulang. Saat mendengar cerita mitos ini, aku jadi teringat pada kedua sahabatku Dani dan Diki. BUkian karena mereka mirip sama Ahool, hanya saja aku ingat saat kami ketemu sama hantu di minimarket.
        Ada alasan kenapa malam ini aku lebih memilih mendengarkan radio daripada berkumpul sama dua teman Homo Shapien-ku tersebut. Saat ini si Dani sedang tamasya ke Surabaya dalam rangka mencari Action Figure Gundam yang katanya limited bange. Dan Diki tidak bisa diganggu karena sedang sibuk mengerjakan proyek besar, membuat origami burung-burungan berjumlah 100 ekor untuk surprise pacar temanya. Yah, sebuah proyek besar dan dia dibayar  Rp 500,- untuk setiap burung.
     Sebenarnya seminggu yang lalu aku dihubungi oleh Diki, dia minta bantuan untuk membuatkan origami burung.
"Dika, loe lagi sibuk nggak..aku ada proyek besar nih" Suara Diki menyembur keluar dari speaker HP.
"Proyek? emang kamu dapat job apaan" tanyaku, soalnya kalau aku tahu kalau urusan beginian biasanya ada gak beresnya.
Diki terkekeh, dan suara tawanya kayak mak lampir yang kesedak biji kedondong.
"Proyeknya tuh, bikin origami burung-burungan sejumlah seratus ekor" terangnya. Dia melanjutkan "Nah, per ekor nanti kita diberi upah Rp 500,-..ini permintaan temenku, katanya buat surprise ceweknya"
Aku diam mencoba mencerna kalimat yang masuk ke dalam telingaku ini.  Seratus ekor di kali 500, hasilnya 50ribu. Kita yang pegel ngelipatin cuman dibayar 50ribu, itupun nanti dibagi dua sama si Diki. Jadi perorang dapat 25ribu.
Karena aku belum menjawab, Diki bertanya lagi "Gimana Dik, mau?". Aku bisa membayangkan saat dia bertanya pasti kedua alisnya naik turun kayak ombak di empang belakang rumah.
“Sory, aku lagi sibuk…kapan-kapan aja ya” jawabku. Untungnya si Diki bisa menerima jawaban tersebut walaupun sedikit menggerutu. Tidak berselang lama aku lihat di Display Picture BBM-nya dipasang gambar “Lagi Sibuk, Jika Ada Keperluan Harap Hubungi Dinas Terkait”
Nah Para Pendengar Begitulah Mitos Tentang Ahool..
Benar Atau Tidaknya Apakah Anda Mau Membuktikan Sendiri..
    Akhirnya cerita mahkluk kelelawar tersebut selesai. Dan seperti acara-acara radio pada umumnya, setelah ini ada akan diputarkan musik-musik pilihan dan titip salam. Pada titip salam ini adalah ajang para jomblo untuk mengekspos diri mereka agar keberadaan mereka diakui dan tidak hilang dihembus angin malam, walaupun ada juga yang sudah memiliki pacar titip salam buat pacarnya yang lagi pacaran sama pacar orang.
    Aku meraih Smarthphone dan mulia mengetik salam untuk dua sahabatku. Dua hari yang lalu aku sudah memberitahu mereka kalau ada acara yang asyik di radio. Tapi karena Dani masih di Surabaya dia bilang belum menemukan frekwensi tersebut dan si Diki cuman bilang “Ya” saja. Sepertinya Diki masih agak jengkel karena aku tidak mau membantunya membuat origami.
Para Pendengar Sekalian..
Sudah satu jam kami bersama anda..
Jika Anda Memiliki Waktu Sempatkanlah Mengunjungi Stasiun Radio Kami Di Jalan Belimbing No 66 Tuban depanya toko emas Srijaya.
Selamat Malam Dan Selamat Beristirahat
Salam perpisahan tersebut ditutup dengan iringan music gamelan.
    Sore hari besoknya aku nongkrong di “Warung Mak’e” bersama Diki. Pagi tadi si Diki mengirim pesan lewat SMS (Yang mana jaman sekarang SMS jarang digunakan) ngajakin ketemuan di markas besar. Katanya ada sesuatu yang penting mau dibicarakan.
    Warung Mak’e, sebuah warung berdinding anyaman sederhana nan elegan di pinggir jalan. Kalau ditengah jalan nanti malah diseruduk mobil. Warung ini adalah markas kami bertiga karena harga makanan dan kopinya wajar. Selain itu para pembeli tertarik dengan promo iklan dari bekas kardus yang dipasang di samping pintu. Promo tersebut bertuliskan “PRI WAIFI”. Tidak ada yang tahu kenapa ditulis seperti itu dan tidak ada yang niat bertanya. Semuanya bungkam asalkan bisa menikmati kuota Wi-Fi yang diperebutkan lebih dari sepuluh orang di warung tersebut.
   Setelah meminum sedikit kopinya Diki bilang kalau Dani masih di Surabaya. Dia akan pulang besok pagi. Jika dilihat dari gelagatnya, Diki sudah tidak jengkel lagi. Karena itu aku memberanikan diri bertanya soal proyeknya, dan dia bilang proyek tersebut sukses. Hanya saja cewek temanya kecewa dengan pacarnya karena bukan dia sendiri yang membuat origami tersebut.
    Dika, kemarin kamu ngasih tahu tentang acara radio yang katamu bagus itukan?” tanya Diki. Aku mengiyakan.
   Diki melanjutkan “Gini Dik, aku penasaran sama acara tersebut…jadi kemarin malam aku coba mencari frekwensinya di Aplikasi radio Smarthphone tapi gak ketemu loh”
    “Serius?” kataku sambil memasang tampang angker.
    “Iyaaaa…piinteeeerrrr” ujar Diki.
    “Kan kamu bilang kalau sering kirim salam buat kita bertiga..aku jadinya penasaran dan cariin itu frekwensi..tapi gak ada” lanjut Diki. “Lo yakin itu radio asli?” tanyanya lagi
     Mengingat apa yang terjadi di minimarket beberapa waktu yang lalu aku bisa memaklumi kalau si Diki agak paranoid dengan semua hal berbau ghoib. Tapi kalau masalah kali ini aku rasa berbeda, karena aku tahu yang mendengarkan bukan hanya aku saja tetapi orang lain juga bila dilihat dari banyaknya yang titip salam dan menelepon. Akhirnya kami berdua sepakat akan mengunjung stasiun radio tersebut sehabis maghrib.
    Malam telah datang, dimana pada suasan seperti ini berbagai makhluk mulai beraktifitas. Ada yang lagi nongkrong, pacaran, dan berangkat kerja. Dan kami sendiri sedang menuju jalan belimbing no 66. Selama perjalanan tidak ada yang aneh hingga kami tiba di tujuan. Jalan ini agak kecil tapi lumayan ramai. Lalu kamu mencari toko emas Srijaya. Begitu ketemu kami turun dan memarkir sepedah motor di salah satu toko di jalan tersebut. Diki lalu mengeluarkan Action Cam dan mulai mencari spot foto. Katanya buat bukti kalau ada penampakan.
     Toko emas Srijaya, dan bangunan yang berdiri di dapan kami adalah sebuah Stasiun Radio dengan tower yang menjulang tinggi ke langit. Itulah tujuan dari perjalanan ini. Kami lalu masuk di stasiun radio tersebut dan menjelaskan maksud tujuan kami kesana.
    “frekwensi 46 FM?” tanya salah satu karyawan setalah kami memberikan maksud tujuan kami kesana. Beberapa karyawan juga terlihat berbisik-bisik dengan wajah serius. Aku mulai mulai merasakan sesuatu yang tidak enak.
    “Iya mas, itu acara yang selalu saya dengarkan setiap malam, tapi saat temanku ini mencarinya dia tidak menemukan acara tersebut” ujarku dan diamini oleh Diki.
     Karyawan tersebut diam sejenak dan akhirnya dia menceritakan sudah ada lima kali yang menanyakan tentang frekwensi 46 FM tersebut. Dia lalu menujuk di banner bahwa radio tempatnya bekerja berada pada Frekwensi 101,8 FM. Jadi kami adalah yang keenam. Kejadian pertama mereka menganggapnya sebagai kebetulan. Tapi kejadian tersebut berlanjut dan saat diperiksa melalui rekaman CCTV tidak ada kejadian yang aneh antara rentang waktu kejadian pertama sampai kami datang. Akhirnya pijak manajerial akan mengadakan selametan agar tidak ada kejadian yang sama terulang kembali.
   Setelah mendengarkan penjelasan dari pihak radio, kami ijin pulang. Selama perjalanan kepalaku dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Si Diki malah terus menerus mencecar aku dengan berbagai pertanyaan seputar acara tersebut.
   Saat ini aku kembali disadarkan bahwa mahkluk ghoib bisa ada dimana saja dan bisa menyerupai apa saja. Berbahagialah karena mereka sudah tidak mendiami tempat yang terlihat angker, tapi mereka juga mendiami tempat yang ramai dan berbaur dengan kita.
     Sesampainya di rumah aku ambil radio lamaku dan mencoba mencari frekwensi 46 tersebut. Hasil yang aku dapatkan hanya bunyi-bunyi tidak jelas yang sangat berbeda dengan kemarin malam. Pakah karena aku sudah mengetahui bahwa siaran ini adalah buatan "mereka" sehingga sekarang sudah tidak bisa diakses lagi?. Akhirnya kau mematikan radio dan aku taruh di gudang. Hanya dengan mengingatnya saja bulu kuduku sudah berdiri karena selama beberapa waktu ini aku mendengarkan siaran radio dari alam yang berbeda. Saat aku pejamkan mata, suara dari sang penyiar masih menggema di telingaku.
“Gue harus bisa Move On” kataku.

Surabaya, 23:16 WIB di hari yang sama
Seorang pemuda sedang asyik mendengarkan siaran radio dari Smarthphone-nya. Di bawah pemuda tersebut terdapat tas ransel berisi box gundam. Sambil menyeruput kopinya dia mendengarkan suara sang penyiar.
Selamat Malam Para Pendengar GGG FM Frekwensi 46 FM..
Apa Kabar Pendengar Malam Ini?
Semoga Baik-Baik Saja Ya..
Pemuda tersebut diam dan tersenyum. Hingga akhirnya dia berkata
“Siaran yang aneh..memangnya dari Tuban ke Surabaya frekwensinya bisa sampai?..setelah pulang aku akan mengajak Dika dan Diki untuk menyelidikinya”
Setelah itu sang pemuda mematikan aplikasi radionya dan beralih membaca komik Doraemon

Selasa, 11 Oktober 2016
Frekwensi 46 FM by Dhimas Rangga Kusuma

Rabu, 28 September 2016

Jalan Berpisah

Ada pertemuan pasti ada perpisahan.
Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa tidak berdayanya manusia dalam menghadapi kehilangan. Apapun alasannya, perpisahan selalu meninggalkan duka. Walapun mencoba sekuat mungkin, manusia tetap akan merasa kehilangan. Tetapi kita hanya merasakan kehilangan saat sesuatu tersebut benar-benar  direnggut dari diri kita.
    Satu bulan yang lalu, salah seorang rekan kami akan resign dari perusahaan. Berita yang benar-benar mendadak, karena kami tidak pernah melihatnya mengeluhkan pekerjaan ataupun perlakuan rekan-rekannya. Atau mungkin dia tidak mau mengeluh ataupun curhat, karena manusia memliki kecenderungan hanya ingin tahu tetapi tidak mau membantu. Rekan kami tersebut bernama Tisna Cahyani, dia tergolong pegawai baru karena belum ada satu tahun bekerja. Walapun belum lama, tapi dia termasuk gadis yang baik, supel, suka bercanda, dan ringan tangan. Pekerjaan yang diberikan padanya pun juga dapat dia selesaikan dengan baik. Jadi bisa dibayangkan betapa terkejutnya kami saat mengetahui kabar bahwa dia resign.
    "Tisna, kamu kenapa kok resign? kan kalau ada apa-apa bisa cerita pada kami" tanya Ika saat kami berkumpul di kantin untuk istirahat makan siang.
    Sambil tersenyum Tisna menjawab "gak ada masalah apa-apa kok mbak". Tapi jawaban tersebut tidak memuaskan sang penanya. Ika masih mencecar Tisna dengan berbagai pertanyaan selama jam makan siang bila tidak dihentikan oleh salah satu teman kami.
    "Sudahlah Ka, mungkin Tisna memiliki alasan kenapa tidak mau mengungkapkan alasannya" Kata Desi agar Ika berhenti bertanya. Setelah itu Ika hanya menggerutu saja. Sebenarnya aku paham bagaimana perasaan Ika, karena dia adalah teman satu kos dan semenjak ada Tisna mereka berdua selalu jalan berdua.
    "Jaka...Somad...kenapa kalian diam saja, bantu tanya juga dong" hardik Ika pada kami. Aku hanya tertawa kecil dan mengatakan kalau aku setuju sama pendapat Desi. Menurutku memang tidak adil kalau kita terlalu ikut campur dalam urusan Tisna walaupun dia rekan kami juga. Berbeda dengan Jaka, dia semenjak tahu berita pengunduran diri Tisna sikapnya sedikit berubah menjadi agak diam seperti ada yang mengganggu pikiranya. Sebelum kembali ke kantor, Desi mengusulkan acara perpisahan 3 hari lagi sekaligus mengantar Tisna saat akan kembali ke kota asalnya. Kami menyetujuinya.
    "Woi, Jaka...kamu kepikiran sama Tisna ya?" Tanyaku setelah kami kembali ke kantor. Meja kerjaku dan meja kerja Jaka bersebelahan. Yang ditanya cuman diam saja, tidak menjawab ataupun menoleh. Dia sebenarnya tahu keberadaanku atau tidak sih.
    "Jak, kesempatan tidak datang dua kali...selagi sempat cepat ungkapkan perasaanmu pada Tisna" cerocosku lagi. Ok, apa yang aku katakan barusan hanya tebak-tebakan saja kalau Jaka menyukai Tisna. Tapi melihat ekspresi Jaka yang kayak disamber petir saat mendengar perkataanku membuktikan semuanya.
       "Mad...." katanya, tetapi ada sesuatu yang mengganggunya sehingga kata-katanya seperti tersangkut di tenggorokan dan menolak untuk keluar. "Gak jadi deh Mad" ucapnya. Gila, padahal aku sudah menyiapkan mental dan gendang telinga untuk mendengarkan curhatnya yang pasti haru biru. "Ya sudah kalau gitu" kataku sewot.
    Selama tiga hari aku melihat Jaka seperti orang linglung dan tidak mempunyai gairah kerja sama sekali. Aku tahu, walaupun fisiknya berada di tempat kerja tetapi pikiranya ke mana-mana. Sebagai teman aku merasa iba padanya, tapi itu juga merupakan sebuah pelajaran berharga untuk Jaka. Saat mencintai seseorang kita juga harus mau menerima resiko yang setimpal dari perasaan suci tersebut.
    "Somad, Jaka mana?" tanya Desi saat tiba hari perpisahan dengan Tisna. Aku cuma diam saja dan menggelengkan kepala. Si Ika berusaha menghubungi Jaka tapi tidak diangkat. 
    "Si Jaka kemana sih..hari penting buat temanya kayak gini kok malah gak datang" marah Ika. "Dasar gak punya persaan dia itu, ada temanya yang mau pergi malah gak datang atau mengucapkan salam perpisahan" lanjut Ika.
    "Gak apa-apa kok mbak...mungkin mas Jaka lagi ada keperlaun lain yang lebih mendesak" Ujar Tisna menenangkan Ika. Tisna lalu menatapku dan berkata "Mas Somad, titip salam buat Mas Jaka ya". "Iya Tis, Insya Allah aku sampaikan" Jawabku.
    Acara perpisahan berlangsung dengan canda tawa. Kami menginggat semua kejadian lucu, senang, dan sedih saat-saat kami bersama. Hingga tiba waktunya perpisahan, kami mengantar Tisna ke terminal. Semua canda tawa tadi seperti menguap begitu saja tanpa bekas saat Bus yang akan mengatar teman kami datang. Desi, Ika dan Tisna saling berpelukan dan menangis. Suasana berubah menjadi mengharukan. Pandangan kami tidak bisa lepas dari sosok teman kami tersebut, mulai dari dia naik bus sampai bus tersebut berangkat.
    Aku pulang sambil mengantarkan Desi dan Ika karena kondisi mereka sedang tidak stabil. Aku takut kalau terjadi apa-apa pada mereka di jalan. Setelah itu aku mampir kantor sebentar karena ada berkas lemburanku yang ketinggalan. Begitu tiba di kantor, pandanganku tertuju pada meja Jaka. 
    "Kok masih ada Tas kantornya Jaka ya" pikirku dalam hati. Aku mencoba mencarinya di ruangan tapi tidak ketemu. Aku tanya satpam yang sedang berjaga, katanya melihat Jaka naik tangga menuju puncak gedung. Pikiranku sudah bermacam-macam saat mendengarnya, aku berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan sahabatku tersebut.
     Akhirnya aku menemukanya. Dia sedang berdiri sambil memegangi sebuah foto. Ya, itu adalah foto Tisna. Dia memandangi foto tersebut, sejenak kemudian dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan korek api. Secara perlahan dia menyalakan korek tersebut dan membakar foto Tisna. Abu foto tersebut berterbangan di tiup angin, dan jaka hanya menatap abu tersebut dengan pandangan pilu.
    Aku yang melihat fragmen tersebut memutuskan untuk membiarkan Jaka sendirian unuk saat ini. Jika sudah waktunya mungkin dia akan bercerita sendiri, jika tidak aku tidak memiliki hak untuk mengoreknya. 
    "Kamu salah Ka...tidak menyapa ataupun mengantar bukan berarti tidak memiliki perasaan apapun" kataku dalam hati. Aku segera turun dan tidak ingin mengganggu sahabatku. Aku tahu apa yang dirasakanya karena aku pun pernah mengalaminya. Merasakan kehilangan yang sangat menyakitkan. Apa yang dilakukan Jaka mungkin ada benarnya dengan tidak ikut mengantar, seperti rasa kehilangan saat aku mengantarkan seseorang yang sangat aku rindukan. Perasaan tersebut akan menancap dengan dengan kuat saat aku mengantarkanya pergi. Sebuah jalan perpisahan yang tidak bisa aku bayangkan akan Bahkan sampai saat ini aku terus mencari keberadaanya dan menunggunya untuk kembali. Kembali padaku.
    "Semoga kamu tidak menjadi seperti aku wahai sahabat, semoga jalan perpisahan ini membuatmu semakin kuat" kataku sambil menuruni Tangga

Kamis, 29 September 2016
Jalan Berpisah By Dhimas Rangga Kusuma

Rabu, 21 September 2016

Minimarket Horror Story

Salah satu kegiatan favoritku saat malam hari adalah ngopi bersama dua sahabatku. Walaupun terkadang sendiripun juga asyik, tapi lebih badas jika dilakukan bersama-sama. Dua sahabat karibku Dani dan Diki. Kami dipertemukan dalam ikatan takdir melalui kejadian yang luar biasa, dan kejadian inilah yang mengawali petualangan kami selanjutnya.
     Sebelumnya aku akan mendeskripsikan bentuk dan sosok dua makhluk kasat mata dan hampir tidak gaul ini. Diki, dari namanya sudah jelas laki-laki, tinggi 168 cm (dia ngototnya segitu, padahal dia lebih pendek dari aku), rambutnya dipotong model Bob kayak karakter Guru Guy pada anime Naruto. Tapi dari tampang yang eksentrik banget kayak makhluk langka dia memiliki jiwa sosial dan loyal terhadap teman-temanya. Bahkan saking loyalnya dia pernah ngajakin pacar temannya buat nonton filem di bioskop karena alasan kemanusiaan.  
     Dani, dia beperawakan tinggi tegap, rambut dipotong cepak, dan sepertinya urat saraf takutnya sudah putus. Menurut kabar burung yang terbang beredar, si Dani ini pernah berantem dengan anjing. Ceritanya tuh, si anjing dengan berani ngencingi sepedah pancal kesayanganya. Dia melacak si pembuat onar tersebut, dan saat mereka bertemu terjadilah pertarungan seru kedua makhluk tersebut. Aku sendiri gak tahu apa  kisah tersebut asli atau di dramatisir kayak sinetron-sinetron sekarang.
     Pertemuan kami berawal dari isu-isu yang beredar tentang penampakan hantu di minimarket dekat SPBU. Seperti yang kita tahu, jika berbicara tentang hantu pasti pikiran kita akan muncul sesosok mahluk tak kasat mata, nyeremin dan tinggal di tempat-tempat kumuh dan bangunan lama. Itulah teori yang dimunculkan sejak jaman dinosaurus belum punah sampai mereka musnah karena ditabrak meteor. Lalu kok bisa "mereka" muncul di tempat ramai semacam minimarket? jawabanya hanya bangsa mereka yang tahu, kalau penasaran tanya aja sendiri.
     Saat itu malam minggu, minimarket lagi ramai-ramainya. Banyak pasangan yang yang berbelanja untuk persiapan malam syahdu versi mereka sendiri-sendiri. Di sana untuk petama kalinya aku bertemu dengan Diki dan Dani. Aku yang baru selesai membeli kopi instan tidak langsung pulang, tapi milih nongkrong di kursi yang disediakan oleh manajemen minimarket sambil melihat pengunjung yang datang. Hingga ada yang menyapa dan mengajaku bicara
     "Mas, ngapain nongkrong disini sendirian?...ntar kesambet tahu rasa loh". Aku menoleh ke suara tersebut, dan dia melanjutkan "Aku numpang duduk juga ya?". "Eh, iya..silahkan aja" jawabku. Dialah Dani, kami belum saling kenal sehingga cara bicara kami masih terkesan jaim.
   "Perkenalkan namaku Dika Mahendra, panggil saja Dika" kataku mengawali percakapan. "Aku Dani Setyo, salam kenal juga" jawabnya sambil menjabat tanganku. Pembicaraan kamipun berlangsung biasa-biasa saja, hingga Dani menyinggung soal rumor yang beredar tentang minimarket tempat kami nongkrong ini.
     "Dik, kamu tahu gak kalau minimarket ini katanya berhantu?"
     "Ah, yang bener? masak iya hantu sekarang di minimarket" sanggahku
     Dani melanjutkan "Dibilangin gak percaya..temanku ada yang pernah belanja disini dan katanya itu hantu nyamar jadi salah satu pelayanya"
     "Sebentar-sebentar..jangan-jangan kamu kesini buat membuktikan perkataan temanmu tadi yang gak jelas benar apa enggaknya?" tanyaku. Dani mengangguk. Busyet dah ini orang, biasanya kita akan langsung menghindari tempat yang dikatakan angker sebagai respon pertahanan diri.
     "Gue ingin tahu aja" tukasnya. "Karena itu, pas belanja aku menghitung jumlah pelayan dan menanyakan pada kasir berapa yang jaga saat ini" lanjutnya. "Terus hasilnya?" tanyaku. "hasilnya gak ada yang aneh, pelayan yang jaga empat dan yang aku temui empat juga" ujar Dani sambil menghela nafas.
     Tidak berlangsung lama, ada wanita muda yang mendatangi kami. Pakaianya seperti pegawai kantoran. Parasnya manis dan terkesan anggun. Hingga kalimat merdu keluar dari bibirnya.
     "Mas-masnya narik ojek ya disini"
     GUBRAK!!!! aku dan Dani serasa kejatuhan atap minimarket yang ambruk. 
    "Maaf loh mbak, kami bukan narik ojek...kami cuman nongkrong aja disini" kata Dani begitu kesadaranya pulih.
    "Waduh mas, maaf ya...aku gak tahu" Wanita tadi minta maaf. 
    Aku pun angkat bicara "Kalau boleh tahu, mbak-nya mau kemana sih? kok tak lihat-lihat kayaknya terburu-buru".
      "Gini mas, saya mau kerumah teman kantor...soalnya dompetnya ketinggalan, alamatnya di jalan mangga dekat toko roti amerta" jawabnya wanita tadi. Aku dan Dani saling pandang. Mungkin pikiran kami sama, diantar apa enggak.
    Belum sempat kami menyahuti, dibelakang kami ada yang bicara "Sudah mbak, sama saya saja....kayaknya meraka berdua gak mau tuh nganterin mbak-nya". Kami bertiga menoleh, dan ada pemuda seumuran dengan kami yang baru saja keluar dari minimarket.
       "walah ini bocah gak punya tata krama ya, langsung nyosor percakapan orang lain aja" umpat Dani
       "tenang bro..tenang.." aku menenangkan teman baruku ini sebelum terjadi perang dunia ke-3. "Mas, gak apa-apa sih kalau mau nganterin mbak ini, tapi mbak nya mau gak dianterin sama mas nya?" tanyaku. Wanita tadi menjawab sambil tersenyum"saya ok aja ja, yang penting sampai tujuan". Bagai gayung disambut, pemuda tadi begitu senang. "Mbak tunggu sebentar disini, saya ambil sepedah" ujarnya dengan semangat.
      Tidak berselang lama dia datang sambil menaiki sepedah motor dan menyerahkan helm kepada penumpanganya. "Safety Riding mbak" tukasnya sambil mnegedipkan mata. Yang diajak bercanda hanya tersenyum saja. Wanita tadi naik di jok belakang dan mengalungkan tanganya untuk bepegangan pada si pemuda, lalu mereka pergi dan menghilang di telan gelapnya malam.
    "Syukurlah ada yang mau nganterin ya Dan" kataku sambil menoleh ke Dani. Dani cuman diam mematung, dan semakin lama aku lihat wajahnya benar-benar pucat. Dia menoleh padaku.
    "Dika, kamu lihat di spion sepdah bocah tadi enggak?" tanyanya dengan gemetar
    "eh..enggak..." ujarku. Dani diam dan melanjutkan "Benaran gak lihat?"
   "Dan, lo nakutin aja...emang kenapa dengan spionya?". Jujur saja, saat ini aku merasa buku kuduku berdiri. "Tadi gue sempat lihat spionya saat tu cewek naik, tapi di spion hanya ada PANTULAN BAYANGAN pengendaranya saja, sama sekali gak ada pantulan cewek tersebut!!!! pekik Dani. Demi mendengar kata-kata Dani nafasku rasanya tercekat. Kami berdua saling pandang hingga aku berkata "Nasib itu orang gimana ya?". "Ayo susul dia,...Dik, kamu masih ingat alamat tujuan cewek tadikan?" tanya Dani. Akupun menjawab "Iya, aku masih ingat".
    Dalam waktu kurang dari lima menit aku dan Dani sudah kebut-kebutan di jalanan. Tujuan kami adalah jalan mangga dekat toko roti amerta. Dalam benaku sudah muncul skenario-skenario yang mengerikan. Setelah kami hampir mendekati TKP (Tempat Kejadian Penampakan), Dani mengurangi kecepatan sepedah motornya sambil melihat kanan dan kiri. Jalan mangga, jalan ini termasuk agak sepi dibandingkan jalan-jalan yang lain. Sepanjang jalan ini hanya ada tiga gang kecil. Dua gang di sebelah kanan yang megarah ke pemukiman warga dan satu gang buntu. Di ujung gang buntu ini ada tempat pemakaman umum warga sekitar. Gang buntu ini bersebelahan dengan toko roti Amerta. Di ujung gang yang agak gelap, terparkir sepedah motor yang kami kenal. Sedangkan pengendara sepedah motor ini terduduk lemas di trotoar. Melihat kedatangan kami, raut wajahnay berubah menjadi bahagia. Aku turun dan memberi pemuda itu minuman isotonik dari minimarket. Selasi meneguk minuman dia langsung bertanya.
    "Sejak kapan kalian sadar kalau cewek tadi bukan manusia" tanyanya dengan gemetar. Dapat aku lihat jari tangannya masih gemetar karena syok.
     "saat dia naik sepedah motormu" jawab Dani. "bayangannya tidak ada di spion sepedah motormu"
     "Hahhaha..begitu ya" pemuda tadi mencoba tertawa
   Selanjutnya kami membawa pemuda tadi ke warung terdekat untuk menenangkan syarafnya yang terguncang. Dia memperkenalkan diri, namanya Diki wahyudi. Lalu dia menceritakan pengalamanya saat membonceng wanita misterius tersebut. Awalnya biasa-biasa saja, hingga dia dan penumpang misterius tadi berbelok di gang buntu. Dia merasakan punggungnya panas. "Masak iya ini cewek mau bakar gue" pikirnya. Karena penasaran dia mencoba melihat di spion, dan yang nampak disana hampir menghentikan jantungnya. Sebuah helm melayang tanpa ada raga yang mengenakanya. Dia menghentikan laju motornya dan menoleh kebelakang. Wanita tersebut tersenyum kecut sambil mengucapkan terima kasih dengan suara parau. Seluruh tubunhya kaku, keringat bercucuran, degup jantunganya meningkat, dan Diki merasakan tenaganya terkuras habis. Dia terduduk lemas di trotoar sampai aku dan Dani menemukanya.
     Setelah Diki bercerita kami bertiga duduk terdiam. Pengalaman malam ini begitu mengena, sehingga kopi yang kami pesan terabaikan begitu saja. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. 
     Malam ini, aku mendapatkan dua pelajaran berharga. Aku medapatkan dua orang teman baru. Dan yang kedua aku menyadari bahwa hantu tidak selamanya akan muncul di tempat yang kumuh dan tua. Mereka bisa dimana saja, bahkan di tempat yang ramai sekalipun. Di tempat yang tidak bisa kita bayangkan kalau meraka ada disana.
     Dani mengambil cangkir kopinya dan mencicipi sedikit, setelah itu dia berkata "Gue puas, akhirnya bisa lihat penampakan walau badan jadi keder". Aku dan Diki saling pandang, dan secara bersamaan kami mengumpat "BOCAH EDAN"

Kamis, 21 September 2016
Minimarket Horror Story by Dhimas Rangga Kusuma